Kenapa Gue-Lo Vs Aku-Kamu Bisa Nimbulin Efek Yang Beda?

Buat yang tinggal di Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Tangerang, Bekasi), kata ganti gue-lo pasti udah nggak aneh dipake buat ngobrol sehari-hari. Yang aneh justru ketika ada temen cowok yang tiba-tiba pake kata ganti aku-kamu pas lagi ngobrol. Pertanyaan yang awalnya kedenger santai kayak “Udah makan belum lu?” jadi kedenger beda ketika berubah jadi “Kamu udah makan belum?”.

 

Hayooo, siapa yang ngerasa aneh juga ketika ada temen cowok tiba-tiba ngomong pake aku-kamu? Gogirl! coba ngungkapin fenomena di balik kata ganti gue-lo vs aku-kamu yang sering dipake di kita ngobrol sehari-hari.

 

AKU-KAMU LEBIH INTIM DARIPADA LO-GUE

Fadiyah tinggal di Jakarta Timur sejak kecil. Bahasa yang dipake ngobrol sehari-hari di lingkungan keluarganya adalah bahasa Betawi. Lulus SMA, Fadiyah diterima di salah satu unviersitas negeri yang lokasinya di Jatinangor, Sumedang. Kalo selama ini dia selalu pake kata ganti lo-gue buat ngobrol sama orang lain, pas kuliah dia ketemu temen-temen yang pake kata ganti aku-kamu. Buat Fadiyah, kata ganti aku-kamu itu kerasa aneh.

“Selama sekolah, entah komunikasi di sekolah, komunitas, ataupun keluarga, aku-kamu itu nggak pernah digunakan. Terus, ada pemaknaan kalo aku-kamu itu digunakan untuk pasangan yang lagi deket. Jadi kayak semacam simbol gitu ketika kita secara aktif berhubungan sama orang, dari yang awalnya lo-gue tiba-tiba berubah jadi aku-kamu. Semacam pertanda naik kehubungan yang lebih intim, atau memasuki hubungan romantis,” cerita Fadiyah lewat DM Instagram.

Mirip sama Fadiyah, Raissa yang tinggal di Tangerang juga terbiasa ngobrol pake kata ganti gue-lo di lingkungannya. Sejak kecil, kata ganti yang dipake buat komunikasi sama temen adalah gue-lo. Tapi, kata ganti itu berubah jadi aku-kamu ketika Raissa akhirnya pacaran sama temen sekolahnya.

“Dari SD (pake gue-lo), tapi kalo pacaran aku-kamu hahaha, geli. Itu udah kayak otomatis gitu. Unwritten rules aja,” kata Raissa lewat Whatsapp.

 

PENYESUAIAN GUE-LO BUAT ANAK RANTAU NON-JABODETABEK

Pandangan Fadiyah dan Raissa nggak berlaku buat Ebby. Lahir di Sidikalang, Sumatera Utara,  membuat Ebby malah nggak terbiasa ngomong pake kata ganti gue-lo. Sejak kecil, Ebby terbiasa pake kata ganti aku-kau di lingkungannya. Pas kuliah merantau di Jawa Barat, Ebby ketemu banyak temen baru yang berasal dari Jabodetabek dan kebiasaan pake kata ganti gue-lo sehari-hari.

“Tahun pertama kuliah aku pake saya-kamu, semester 3 baru terbiasa pake gue-lo. Inget banget temen-temen dari Jakarta di kelasku kan pada nge-geng ya awal kuliah. Mereka nggak terlalu mau ngobrol lama-lama, mikirnya aku orangnya kaku, pinter, dan dingin, hahaha,” cerita Ebby lewat Whatsapp.

Nggak cuma Ebby yang kemudian menyesuaikan diri sama lingkungan, Resti juga harus beradaptasi sama temen-temen kuliahnya yang berasal dari Jabodetabek. Resti berasal dari Sukabumi, dan di Sukabumi terbiasa pake kata ganti aku-kamu sehari-harinya. Sejak kuliah dan punya temen-temen yang asalnya dari Jabodetabek, Resti jadi terbiasa pake kata ganti gue-lo.

“Iya, aku pake gue-lo kalo ngobrol sama orang Jabodetabek. Mereka suka kegeeran sendiri kalo pake aku-kamu. Aku sempet tuh deket sama anak Jakarta, awalnya pake gue-lo, setelah makin deket baru deh aku-kamu,” cerita Resti lewat Whatsapp.

 

TERNYATA, INI TENTANG EFEKTIVITAS KOMUNIKASI

Kata ganti yang ditujuin buat orang disebut pronomina persona. Kalo kata Hasan Alwi dkk, beragamnya pronomina persona dalam bahasa Indonesia disebapin sama hubungan sosial antar penuturnya. Adanya prinsip sopan santun sama tingkat kekerabatan dalam komunikasi membuat pemakai bahasa harus memperhatikan umur, status sosial, dan keakraban antar penggunanya.

Prinsip sopan santun sama keakraban ini diterapin sebagai aturan yang tetap di beberapa bahasa daerah, contohnya Sunda dan Jawa. Ada perbedaan penggunaan bahasa tergantung sama siapa lawan bicaranya. Pada bahasa daerah, semakin kasar bahasa yang dipake antarpenuturnya, maka makin akrab juga hubungannya. Itulah kenapa bahasa daerah termasuk ke dalam salah satu faktor yang bikin kata ganti dalam bahasa Indonesia jadi beragam. Faktor lainnya letak geografis, lingkungan sosial, dan budaya bangsa.

Kalo soal penyesuaian kata ganti kayak yang dilakuin Ebby dan Resti, efektivitas komunikasi adalah jawabannya. Soalnya, nggak cuma mereka yang nyesuaiin temen-temennya dengan ngomong gue-lo, Raissa sama Fadiyah juga ngaku kalo mereka menyesuaikan gaya bicara temen-temen kuliah mereka dengan pake aku-kamu. Penyesuaian ini membuat mereka merasa lebih akrab sama temen-temen baru mereka.

Kalo kata pakar komunikasi Deddy Mulyana, ada 12 prinsip komunikasi. Tiga di antaranya cocok banget sama penyesuaian yang dilakuin Ebby, Resti, Raissa, dan Fadiyah ini.

  • Komunikasi Terjadi dalam Konteks Ruang dan Waktu

Baik Resti atau Ebby sama-sama cuma pake kata ganti lo-gue pas ngobrol sama temen-temen yang asalnya dari Jabodetabek. Ketika mereka ngobrol sama temen-temen dari daerah asalnya, kata ganti yang mereka pake berubah lagi jadi yang sehari-hari digunain. Konteks ini juga berlaku buat tingkat kesopanan tergantung tempat. Cara kita ngomong pas diskusi sama guru di kelas tentu bakal beda sama ngobrol bareng temen di kantin.

  • Komunikasi Melibatkan Prediksi Peserta Komunikasi

Kalo kita ngobrol sama orang, kita bisa memprediksi respon apa yang bakal dikasih sama lawan bicara kita. Itulah yang dihindarin sama Resti ketika ngobrol sama temen-temen cowok yang berasal dari Jabodetabek. Resti bisa memprediksi kalo temen-temen cowoknya ini bakal punya persepsi yang beda kalo dia ngomong pake kata ganti aku-kamu ke mereka.

  • Makin Mirip Latar Belakang Budaya, Makin Efektif Komunikasinya

Itulah kenapa orang yang kebiasaan ngobrol pake aku-kamu sama orang yang kebiasa ngomong gue-lo terkesan nggak nyambung pada awalnya. Komunikasi mereka kerasa nggak efektif karena ke-distract sama perbedaan kebiasaan make kata ganti. Itulah kenapa penyesuaian dibutuhin.

 

Source:

Mulyana, Deddy. 2000. Komunikasi Suatu Pengantar. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Alwi, Hasan, dkk. 1998. Tata Bahasa Baku Bahasa IndonesiaEdisi Ketiga. Jakarta: Balai Pustaka.

Leave a Comment